Rabu, 18 Maret 2009

Berdamai dengan Macet..Bisa?

Macet lagi macet lagi
Gara-gara si Komo lewat

Masih ingat syair lagu anak-anak era 90an ini? Lagu bernada riang ini bercerita tentang tokoh komik bernama Si Komo menjadi penyebab kemacetan panjang di sebuah ruas jalan. Kemacetan merupakan satu masalah klasik (juga klise sepertinya) yang harus dihadapi manusia Jakarta..walaupun Si Komo tak lagi lewat.

Jujur, gambaran kemacetan yang sering saya lihat di TV sering menciutkan nyali saya untuk hijrah ke ibu kota. Dulu waktu di Jogja, saya hampir pasti mengambil jalan memutar kalau tujuan saya harus melewati daerah macet. Saya lebih memilih jalan yang lebih jauh tapi lancar daripada yang pendek tapi macet.

Paket-paket solusi seperti menetapkan ruas-ruas
Three in One, jaringan Busway, dan Bus Sekolah sudah diterapkan. Dengan semua kompensasinya, program-program itu menuai pro dan kontra dalam pelaksanaannya. Terlepas dari itu, saya ragu solusi-solusi parsial ini bisa menyelesaikan masalah.

Di kota yang sudah sesak ini tak perlulah kita berpikir tentang penambahan ruas jalan kalau ingin solusi menyeluruh. Yang sulit lagi, tentunya, membatasi kepemilikan kendaraan pribadi. Kesan mobil pribadi mendongkrak citra social dan kesemrawutan sistem angkutan kota menjadi alasan kuat untuk memiliki motor pribadi.

Terlebih, perusahaan leasing yang katanya memberi pemasukan yang sangat besar untuk kantong pejabat makin hari makin mempermudah syarat pembelian kendaraan. Satu lagi, BBM diturunkan jadi Rp4000..
lagi!!

Kita Vs Macet

Tinggal di kota dengan ritme dan gaya yang sangat berbeda ini membuat saya (mau
ndak mau) berdamai dengan yang namanya macet...daripada stress sendiri. Mungkin ini salah satu bentuk “The Power of Kepepet”. Gimana ga kepepet…wong namanya juga macet, sudah pasti mpet-mpetan to?

Harus diakui, banyak orang menuding kemacetan sebagai biang stress, terlambat masuk kantor atau sekolah, dan hal-hal lain yang bersifat anti-produktif. Pernahkah terpikir bahwa pilihan sudut pandang kitalah yang menyebabkan semua hal anti-produktif itu?

Banyak alternatif lain yang menawarkan sudut pandang lebih “kompromis.” Salah satunya adalah berdamai dengan masalah dan bersikap, seperti seruan sebuah produk tembakau, “Enjoy aja”.

Setelah beberapa kali mencoba, sekarang saya bisa menikmati kemacetan dengan mengagumi berbagai hal yang ditawarkan jalanan. Saat terjebak macet di kawasan Sudirman, dari dalam angkot saya suka mengagumi sebuah gedung yang dipakai oleh sebuah perusahaan penyedia informasi lowongan pekerjaan. Desain jendela dengan atap-atap melengkung yang unik sekilas seperti sisik cukup buat mengalihkan rasa tak sabar.

Belum lagi kalau ada tontonan gratis seperti adegan pengendara yang sibuk membela diri saat ditilang Polisi. Membayangkan apa yang mereka bicarakan seperti sulih suara konyol ala telenovela bisa lumayan menyegarkan.

Jika belum cukup tidur malam atau letih setelah bekerja seharian, saya biasanya menggunakan waktu ngangkot untuk tidur. Bagi anda yang harus mengemudikan kendaraan pribadi, mendengarkan musik favorit sambil menikmati makanan kecil bisa menjadi pilihan cara bersantai di tengah kemacetan.

Salah satu alternatif lain dalam menghadapi kemacetan ditawarkan oleh Komunitas Bike To Work. Komunitas ini mengajak peran aktif pengguna jalan untuk mengurangi kemacetan. Dimensi sepeda yang lebih ramping mempersilakan pengendara lain menggunakan ruang jalan yang tersedia. Bersepeda juga memungkinkan kita menggunakan ruang jalan yang tersisa. Dan yang pasti, moda angkutan ini sangat ramah lingkungan.

Sebenarnya masih banyak cara untuk lebih bijak menghadapi kemacetan daripada hanya sekedar menggerutu atau memaki. Emosi yang meledak-ledak tak pernah melepaskan kita dari kemacetan atau membuat kita nyaman saat atau sesudah kemacetan. Seperti suasana ceria dalam lagu anak diatas, nikmati saja. Jalanan macet mungkin saja memberi ide-ide brilian..
who knows.